Pak Guru Si Kutu Buku

August 3, 2009 · Posted in Cerita 

Cover Simply Amazing

Berikut ini merupakan resensi buku dari teman saya, J. Sumardianta, dengan judul: “Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna”. Jika ingin membeli buku ini silahkan dicari di toko-toko buku terdekat di kota Anda. Buku ini sangat inspiratif dan cocok bagi siapa saja yang ingin mendapat sentuhan-sentuhan rohani. Resensi ini juga dibuat oleh rekan kerja saya, C. Yan Priyanto SJ. Semoga buku ini bermanfaat bagi Anda.

Resensi buku JAWA POS
Pak Guru Si Kutu Buku
Judul buku: Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna
Penulis: J. Sumardianta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, April 2009
Tebal: xv + 188 hlm

“When you walk with sight you see what is. When you walk with faith you see what can be. (Jika Anda berjalan dengan mata kasat Anda hanya akan melihat yang tampak. Jika Anda berjalan dengan iman Anda akan melihat segala yang mungkin)”. Kuotasi ini terdapat di beranda face book J. Sumardianta. Kuotasi ini ternyata merupakan inti pesan buku Simply Amazing karya. J. Sumardianta.

Gagasan J. Sumardianta tak lain bagaimana manusia yang dikisahkannya bisa menerima keterbatasan dan melampaui keterbatasan itu. Keterbatasan itu bisa akibat penyakit kronis, bencana alam, dan kemiskinan. J. Sumardianta guru SMA “kandang manuk” Kolese De Britto Yogyakarta. Dijuluki kandang manuk karena sekolah yang berdiri sejak 1948 ini seluruh muridnya lelaki semua. Lebih dari sekedar guru biasa, pak guru, demikian ia biasa dipanggil, adalah seorang penulis. Kepiawaiannya dalam hal tulis-menulis terbukti dari banyaknya tulisan yang bergentayangan di berbagai media cetak baik lokal maupun nasional.

Inilah keunggulan tulisan Pak Guru. Refleksi menukik tajam. Bahasanya indah, kadang lucu, menggelitik, dan diksinya akurat. Sebagai contoh, “Masyarakat modern terjangkit epidemi “SMS” kuadrat: Senang melihat orang susah, Susah melihat orang lain sukses.” Demi akurasi makna  itupula, penulis kadang menggunakan istilah Latin, Inggris, dan Jawa. Agar dirasa lebih nges, meski bagi generasi muda terasa aneh. Misalnya, “sujana sarjana kelu kalulun dening kala tida” untuk menggambarkan kaum cerdik pandai yang terhanyut dalam arus serba bebas dan serba boleh. (hal 50).
Kemahirannya dalam menulis bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Tulisan-tulisan pak guru, ekspresi kekayaan batin buah pengolahan begitu banyak buku yang telah dilahapnya. Ia memang seorang kutu buku yang rela dan suka memboroskan waktu dalam diam, berjam-jam per hari bersamadi dan nggayemi (mengunyah) buku di kamar. Baginya huruf-huruf itu bukanlah benda mati, melainkan energi hidup yang bisa memberi daya dan menyalakan semangat.  Kegemarannya membaca telah menjadikannya seorang guru yang tidak karatan dimakan jaman. Ilmunya bertumbuh dan bertambah dan tiada pernah habis meski terus menerus dialirkan pada para muridnya.

Buku Simply Amazing, sari-sari kekayaan yang ia cecap dari pengembaraannya mengarungi samudera literasi. Tidaklah heran, ketika kita membaca buku ini kita serasa diajak berkelana menjelajahi sudut-sudut dunia, dan menyingkap banyak perkara yang menakjubkan dan mungkin juga mengejutkan.

Sebagai seorang yang bekerja dalam lingkungan sekolah Jesuit yang kuat dalam tradisi refleksi, keunggulan buku ini, di setiap akhir kisah yang dituturkan selalu ditutup dengan permenungan yang membawa pembaca menerkam inti pesan dari setiap kisah. Point inilah sesungguhnya yang menjadikan buku ini punya factor pembeda. Bukan sekedar cerita biasa, tetapi cerita sarat makna.

Muchtar Abbas, seorang praktisi Grameen Bank di Indonesia dan Konsultan Transparency Internasional, berkomentar: “Buku ini berhasil menyingkap tabir rahasia berbagai paradoks. Pelbagai realitas bertolak belakang justru menyimpan cahaya kebenaran, kebahagiaan, dan keindahan abadi. Keterbatasan manusia diterima, dinikmati, disyukuri, dan dirayakan sebagai anugerah.”

Ibarat pertunjukan, penonton tidak dibiarkan bubar hanya dengan membawa perasaan senang tetapi mereka pulang dengan langkah kaki yang tegap dan lebih siap menerima kenyataan hidup yang tidak pasti. Membaca buku ini kita akan terhibur dan mendapat pencerahan untuk menembus gelapnya kehidupan.

Dan yang lebih menarik bahwa pemaknaan hidup itu tidak harus ditarik dari dinamika kehidupan yang luar biasa menghebohkan, tidak harus dipetik dari peristiwa istimewa tetapi dari hal-hal lumrah dan dari rutinitas hidup keseharian. Penulis menyebut buku ini takubahnya reroncening puspita karohanen (setangkai buket rohani) yang menyentuh, menggugah, dan memiliki daya ubah.
Daya ubah itu terjadi melalui hati pembaca yang terhibur dan cakrawala pikiran yang dibuka lewat inspirasi dan corak hidup atau pola pikir alternatif yang ditawarkan oleh tokoh-tokoh yang dikisahkan. Sembari membaca kita diundang untuk membangun optimisme hidup seperti dihidupi oleh Karen Amstrong yang meskipun seolah hidupnya tak putus dirundung malang tetap bisa merasakan kebahagiaan. Ia “bahagia berada dalam keseharian yang bergelimang kesulitan” kata penulis dalam refleksinya. Dan karena itu penulis mengajak pembaca untuk “senantiasa memiliki semangat tahan banting, tegar dalam kesulitan, tabah dalam mengelola tantangan, dan berani memeluk resiko.” (hal 175).

Pak guru meyakinkan pembaca akan unggulnya sebuah harapan di tengah zaman bergelimang berbagai penderaan yang menggilas. “Malapetaka rupanya gagal membikin manusia bertekuk lutut menyerah pada nasib” (hal 45). Buku ini sungguh bisa mengobarkan api spirit buat menaklukkan segala kelesuan lemah kehendak. Sampul buku yang bergambar tanaman padi segar menghijau kendati diterpa angin dan terinjak sepeda tua, melambangkan pengharapan yang tetap tumbuh di medan  pertarungan  dan sekaligus pertanda bahwa hidup harus tetap bersemi apapun yang terjadi.

C. Yan Priyanto SJ, Rohaniwan, berdomisili di Jogjakarta.



Untuk pembelian koleksi soal dan pembahasan dari Istiyanto dapat menghubungi: email: istiyanto[at]ymail.com atau SMS/TELP.: 081227992609. Daftar koleksi soal yang dapat dibeli silakan klik disini.

Comments

One Response to “Pak Guru Si Kutu Buku”

  1. Muliadi on November 9th, 2010 3:36 pm

    Kayaknya bagus tuh bukunya, tapi di tebing ga ada yang jual

Leave a Reply




*